Hal Umum Mengenai Software yang Kamu Perlu Tahu Sebagai Software Engineer
Wawasan

Hal Umum Mengenai Software yang Kamu Perlu Tahu Sebagai Software Engineer

Vodjo

Pengembangan perangkat lunak (software) adalah proses kompleks yang melibatkan serangkaian tahapan yang harus dilalui dengan hati-hati untuk mencapai produk akhir yang berkualitas tinggi. Dalam dunia yang terus berkembang secara teknologi, aspek-aspek kunci dari pengembang software, termasuk programming, testing, dan deployment, memainkan peran penting dalam memastikan bahwa produk software siap bersaing di pasar yang kompetitif. Mari kita telaah lebih lanjut mengenai ketiga aspek ini: 

Programming.

Programming merupakan tahap awal dalam pengembangan software di mana para pengembang/developer menggunakan berbagai Bahasa pemrograman untuk menerjemahkan kebutuhan bisnis menjadi kode yang dapat dijalankan oleh komputer. Proses ini memerlukan pemahaman yang mendalam tentang logika pemrograman, algoritma, dan struktur data. Beberapa bahasa pemrograman popular termasuk Python, JavaScript, dan C++.

Penting bagi para pengembangan untuk memilih bahasa pemrograman yang sesuai dengan kebutuhan proyek dan memiliki pemahaman yang kuat tentang praktik terbaik dalam pemrograman. Hal ini membantu dalam menghasilkan kode yang efisien, mudah dimengerti, dan mudah dikelola.

Seorang developer, penting untuk mengetahui beberapa point penting ini; 

1. Prinsip-prinsip Pemrograman.

  • Logika Pemrograman: Adalah sebuah kemampuan untuk memahami dan menerapkan logika pemrograman yang efektif, termasuk penggunaan struktur kontrol seperti percabangan dan perulangan.
  • Pemahaman Algoritma: Mampu memahami konsep algoritma dan kemampuan untuk merancang dan menerapkan algoritma secara efisien untuk menyelesaikan masalah.

2. Bahasa Pemrograman

  • Memiliki pengetahuan yang baik akan satu atau lebih bahasa pemrograman yang relevan dibersamai dengan kemampuan untuk menggunakan fitur-fitur bahasa tersebut secara efektif.
  • Memiliki pemahaman paradigma pemrograman seperti program orientasi objek, fungsional, dan procedural.

3. Struktur Data dan Algoritma

  • Pengetahuan tentang berbagai jenis struktur data seperti array, linked list, stack, queue, dan graph, serta kemampuan untuk memilih struktur data yang tepat sesuai dengan kebutuhan. 
  • Paham tentang algoritma pencarian, pengurutan, dan algoritma umum lainnya, serta kemampuan untuk menerapkannya dengan benar.

4. Konsep Kompilasi dan Interpretasi.

Memiliki pemahaman tentang perbedaan antara bahasa pemrograman yang dikompilasi dan diinterpretasi, serta bagaimana proses kompilasi dan interpretasi berlangsung.

5. Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Perlu untuk mampu menganalisis masalah secara sistematis, merumuskan strategi pemecahan masalah, dan mengimplementasikan solusi dengan efektif menggunakan pemrograman.

6. Framework dan Library

  • Pemahaman Kerangka Kerja: Pengetahuan tentang kerangka kerja yang populer dalam bahasa pemrograman tertentu, juga kemampuan untuk menggunakan kerangka kerja tersebut untuk mempercepat pengembangan perangkat lunak sangat diperhitungkan bagi seorang developer.
  • Penggunaan Library: Kemampuan untuk menggunakan library atau pustaka yang tersedia untuk memperluas fungsionalitas aplikasi tanpa perlu mengimplementasikan semuanya dari awal.

7. Keamanan Software (Software Security)

Pengetahuan tentang konsep keamanan perangkat lunak, termasuk serangan cyber, umum dan praktik pengkodean yang aman untuk mengurangi risiko keamanan.

8. Dokumentasi dan Kode Bersih

  • Pentingnya Dokumentasi: Memahami pentingnya dokumentasi yang baik untuk memudahkan pemeliharaan kode dan kolaborasi tim.
  • Kode Bersih: Kemampuan untuk menulis kode yang dibaca, dimengerti, dan dikelola oleh orang lain dengan mematuhi praktik-praktik pemrograman bersih. 

Testing.

Testing adalah tahap kritis dalam pengembang software yang bertujuan untuk memastikan bahwa software berfungsi seperti yang diharapkan dan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Terdapat berbagai jenis tes yang dapat dilakukan, termasuk tes unit, tes fungsional, dan tes kinerja.

Tes unit dilakukan untuk menguji unit-unit kecil kode secara terisolasi, sementara tes integrasi menguji interaksi antara unit-unit tersebut. Tes fungsional memeriksa apakah software berperilaku sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan, sedangkan tes kinerja mengukur kinerja software dalam situasi tertentu.

Dengan melakukan tes secara teratur selama proses pengembangan, para pengembang dapat mengidentifikasi dan memperbaiki bug atau masalah potensial sebelum software dirilis ke pengguna akhir. Ini membantu dalam meningkatkan kualitas dan keandalan produk software.

Berikut adalah hal-hal yang perlu diketahui oleh software engineer dalam tahap testing; 

1. Jenis-jenis Testing.

  • Tes Unit: Memeriksa unit-unit kecil dari kode secara terisolasi untuk memastikan bahwa setiap unit berfungsi sebagaimana mestinya.
  • Terintegrasi: Memeriksa interaksi antara unit-unit yang telah diuji sebelumnya untuk memastikan bahwa mereka bekerja bersama dengan baik. 
  • Tes Fungsional: Memeriksa kinerja perangkat lunak berperilaku sesuai dengan spesifikasi fungsional yang telah ditetapkan.
  • Tes Kinerja: Memeriksa kinerja perangkat lunak dalam situasi tertentu, seperti beban tinggi atau penggunaan yang berkelanjutan. 

2. Strategi Pengujian.

  • Memahami perbedaan antara pengujian black-box (berbasis pada spesifikasi) dan white-box (berbasis pada struktur internal) dan kapan menerapkan masing-masing pendekatan. 
  • Memahami perbedaan antara pendekatan top-down (memulai pengujian dari tingkat tertinggi sistem) dan bottom-up (memulai pengujian dari unit-unit terkecil) dan kapan menerapkan masing-masing pendekatan. 
  • Memastikan bahwa perubahan yang dilakukan dalam kode tidak mempengaruhi fungsi-fungsi yang telah ada sebelumnya. 

3. Alat-alat Pengujian.

  • Framework Pengujian: Memahami kerangka kerja pengujian yang popular seperti JUnit untuk pengujian unit pada Java, dan PyTest untuk Python. 
  • Alat Pengujian Fungsional: Familiaritas dengan alat-alat seperti Selenium untuk otomatisasi pengujian fungsional pada aplikasi web. 
  • Alat Pengujian Kinerja: Penggunaan alat seperti Apache JMeter untuk mengukur dan memantau kinerja aplikasi.

4. Test Cases.

  • Penulisan Kasus Uji yang efektif: Kemampuan untuk menulis kasus uji yang komprehensif dan terperinci untuk menguji berbagai aspek dari perangkat lunak. 
  • Pemikiran Kasus Uji Edge Case: memasukkan kasus uji yang tidak biasa atau ekstrem untuk memastikan bahwa perangkat lunak dapat menangani situasi yang tak terduga. 

5. Otomatisasi Pengujian.

  • Manfaat Otomatisasi: Pemahaman tentang manfaat otomatisasi pengujian dalam meningkatkan efisiensi, mempercepat siklus pengembangan, dan mengurangi risiko kesalahan manusia. 
  • Pemilihan Alat Otomatisasi yang Tepat: Memilih alat otomatisasi yang sesuai dengan kebutuhan proyek dan lingkungan pengembangan.

6. Report Hasil Pengujian.

Kemampuan untuk membuat laporan hasil pengujian yang jelas termasuk bug yang ditemukan, tingkat keparahan, langkah-langkah untuk memproduksi, dan rekomendasi perbaikan.

7. Pemahaman tentang Siklus Software Development

Memahami di mana tahap testing berada dalam siklus hidup pengembangan software dan bagaimana testing berinteraksi dengan tahap-tahap lainnya. 

Deployment.

Deployment adalah tahap akhir dalam pengembangan software di mana software yang telah kembangkan dipindahkan dari lingkungan pengembangan ke lingkungan produksi agar dapat digunakan oleh pengguna akhir. Proses ini melibatkan konfigurasi, pengujian, dan peluncuran software di lingkungan yang sesuai.

Tahap deployment merupakan salah satu tahap kritis dalam siklus pengembangan perangkat lunak di mana software yang telah selesai dikembangkan akan dipindahkan dari lingkungan deployment ke lingkungan produksi agar dapat digunakan oleh pengguna akhir. Seorang software engineer harus memperhatikan berbagai hal yang tidak boleh dilewatkan dalam tahap ini untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Berikut adalah beberapa hal yang tidak boleh dilewatkan seorang software engineer dalam tahap deployment; 

  1. Pengujian yang Komprehensif.
  • Uji Akhir (End-to-End Testing): Pastikan bahwa perangkat lunak telah melalui pengujian akhir yang komprehensif di lingkungan yang mirip dengan lingkungan produksi untuk memastikan bahwa semua fitur berfungsi dengan baik. 
  • Uji Performa: Lakukan pengujian performa untuk memastikan bahwa perangkat lunak dapat menangani beban pengguna yang diharapkan tanpa mengalami penurunan kinerja yang signifikan.

2. Konfigurasi Lingkungan Produksi.

  • Konfigurasi Server: Pastikan bahwa server atau infrastruktur yang digunakan di lingkungan produksi telah dikonfigurasi dengan benar dan sesuai dengan kebutuhan perangkat lunak.
  • Koneksi Database: Pastikan bahwa koneksi database ke lingkungan produksi telah diatur dengan benar dan dapat diakses oleh perangkat lunak. 

3. Manajemen Konfigurasi.

  • Manajemen Konfigurasi: Pastikan bahwa semua konfigurasi perangkat lunak, termasuk pengaturan lingkungan dan konfigurasi koneksi ke database, telah dikelola dengan baik dan terdokumentasi secara jelas.
  • Penggunaan Variabel Lingkungan: Hindari penggunaan konfigurasi statis dan memanfaatkan variabel lingkungan untuk mengelola konfigurasi yang tepat bervariasi antara lingkungan pengembangan dan produksi.

4. Otomatisasi Deployment.

  • Skrip Otomatisasi: Gunakan skrip otomatisasi untuk menjalankan proses deployment dengan konsisten dan efisien, menghindari kesalahan manusia yang dapat terjadi saat proses manual.
  • Deployment Continuous Integration/Continuous Deployment (CI/CD): Implementasikan CI/CD pipeline untuk melakukan deployment secara otomatis setiap kali terjadi perubahan kode, mempercepat siklus pengembangan dan meningkatkan konsistensi deployment.

5. Backup dan Pemulihan.

  • Backup Data: Pastikan untuk membuat backup data penting sebelum melakukan deployment, sehingga dapat memulihkan data jika terjadi kegagalan selama proses.
  • Pemulihan Darurat: Persiapan rencana pemulihan darurat yang jelas dan terdokumentasi untuk mengatasi kegagalan deployment atau masalah lainnya yang mungkin terjadi di lingkungan produksi. 

6. Monitoring dan Pemeliharaan.

  • Alat Pemantauan: Implementasi alat pemantauan yang memadai untuk memantau kinerja perangkat lunak dan infrastruktur di lingkungan produksi.
  • Pemeliharaan Berkala: Jadwalkan pemeliharaan rutin untuk memperbarui dan memperbaiki perangkat lunak serta infrastruktur yang digunakan di lingkungan produksi. 

7. Pengelolaan Versi.

Pastikan bahwa versi software yang akan di-deploy di lingkungan produksi telah dikelola dengan baik menggunakan sistem kontrol versi seperti Git, dan versi yang akan di-deploy sesuai dengan yang diuji dan disetujui.

8. Pengelolaan Risiko.

  • Evaluasi Risiko: Lakukan evaluasi risiko sebelum melakukan deployment dan identifikasi langkah-langkah mitigasi yang diperlukan untuk mengurangi risiko kegagalan deployment. 
  • Rencana Darurat: Siapkan rencana darurat yang jelas dan komprehensif untuk menangani situasi darurat yang mungkin terjadi selama atau setelah proses deployment. 

Penting untuk memastikan bahwa proses deployment dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari gangguan atau kerusakan pada sistem yang ada. Otomatisasi deployment menggunakan alat seperti Docker dan Kuberneres dapat membantu dalam mengurangi risiko dan meningkatkan efisiensi.

Selain itu, monitoring dan pemeliharaan software setelah deployment juga merupakan hal yang penting untuk memastikan bahwa software tetap berjalan dengan baik dan memenuhi kebutuhan pengguna. 

Kesimpulan

Dalam kesimpulannya, aspek-aspek penting dalam pengembangan software, seperti programming, testing, dan deployment, saling terkait dan memainkan peran penting dalam menciptakan produk software yang berkualitas tinggi dan dapat bersaing di pasar yang kompetitif. Dengan memahami dan menerapkan praktik terbaik dalam setiap tahapan, para pengembang dapat meningkatkan efisiensi dan menghasilkan produk yang memuaskan bagi pengguna akhir.

Dengan pemahaman yang kuat tentang prinsip-prinsip pemrograman, strategi pengujian, dan praktik deployment yang baik, seorang software engineer dapat memastikan bahwa produk software yang dihasilkan memiliki kualitas yang tinggi dan memenuhi standar yang ditetapkan.

Pengetahuan yang mendalam tentang bahasa pemrograman, algoritma, dan struktur data memungkinkan seorang software engineer untuk mengembangkan solusi yang lebih efisien dan efektif dalam menyelesaikan masalah kompleks. Begitupun dengan pemahaman tentang otomatisasi pengujian dan deployment membantu dalam meningkatkan efisiensi siklus development dengan mempercepat proses pengujian dan deployment, serta mengurangi risiko kesalahan. 

Memiliki pengetahuan yang umum mengenai aspek-aspek pengembangan software memungkinkan  seorang software engineer untuk berkomunikasi dan berkolaborasi dengan anggota tim yang lain, termasuk developer, tester, dan administrator sistem, dengan lebih efektif. 



Vodjo