Saatnya jualan di toko online sendiri-bebas pajak marketplace
Wawasan

Rencana Punya Toko Online Sendiri? Ini Persiapannya!

Vodjo

Ketika bisnis sudah berkembang, apakah marketplace masih cukup?

Memulai bisnis secara online kini menjadi salah satu pilihan untuk memperluas jangkauan pasar. Melalui marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan platform sejenis, pebisnis dapat memasarkan produk kepada lebih banyak calon pelanggan tanpa harus membangun sistem penjualan sendiri dari awal.

Namun, seiring berkembangnya bisnis, kebutuhan operasional juga ikut berubah.

Jumlah pesanan meningkat, variasi produk bertambah, pengelolaan stok menjadi semakin kompleks, dan biaya operasional perlu diperhitungkan dengan lebih cermat. Belum lagi adanya perubahan kebijakan, biaya administrasi, biaya layanan, serta biaya promosi yang dapat memengaruhi margin keuntungan penjual.

Kondisi ini membuat sebagian pebisnis mulai mempertimbangkan alternatif lain: memiliki toko online sendiri.

Memiliki website e-commerce bukan berarti harus meninggalkan marketplace sepenuhnya. Keduanya justru dapat digunakan sebagai kanal penjualan yang saling melengkapi. Marketplace membantu bisnis menjangkau pelanggan melalui ekosistem yang sudah tersedia, sementara toko online sendiri memberikan keleluasaan lebih besar dalam mengelola identitas brand, pengalaman berbelanja, dan aktivitas penjualan.

Lantas apakah semua bisnis sudah perlu memiliki toko online sendiri? Dan apa saja yang harus dipersiapkan sebelum memulai?

Marketplace vs Toko Online Sendiri: Apa Bedanya?

Sebelum memutuskan untuk membangun toko online, penting bagi pebisnis memahami perbedaan antara berjualan melalui marketplace dan memiliki website e-c0mmerce sendiri.

1. Berjualan melalui Marketplace

Marketplace menyediakan ekosistem penjualan yang sudah terbentuk. Pebisnis dapat membuat toko, mengunggah katalog produk, menerima pesanan, dan memanfaatkan fitur promosi yang tersedia.

Beberapa keunggulannya antara lain:

  • Memiliki potensi akses ke basis pengguna marketplace yang besar.
  • Tidak perlu membangun website dan sistem transaksi sendiri.
  • Tersedia berbagai fitur pendukung penjualan.
  • Cocok untuk bisnis yang baru mulai memasuki pasar digital.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pebisnis perlu mengikuti kebijakan dan struktur biaya yang ditetapkan platform. Selain itu, persaingan dengan penjual lain dalam satu marketplace dapat memengaruhi visibilitas produk.

Kontrol terhadap tampilan toko, pengalaman pelanggan, serta akses dan pemanfaatan data pelanggan juga memiliki batasan sesuai kebijakan platform.

2. Memiliki Toko Online Sendiri

Berbeda dengan marketplace, toko online sendiri memberikan bisnis sebuah kanal penjualan digital yang dikelola melalui website e-commerce milik brand.

Beberapa keunggulannya meliputi:

  • Kontrol terhadap identitas brand: Pebisnis dapat menentukan tampilan website, katalog, dan pengalaman berbelanja sesuai karakteristik bisnis.
  • Fleksibilitas pengelolaan penjualan: Pengaturan produk, harga, dan aktivitas promosi dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
  • Pengelolaan pelanggan: Bisnis memiliki peluang membangun hubungan langsung dengan pelanggan melalui kanal yang dikelola sendiri, sesuai ketentuan perlindungan data.
  • Pengelolaan operasional: Berbagai aktivitas seperti pemantauan stok, pengelolaan pesanan, pembayaran, dan pengiriman dapat didukung oleh sistem yang terintegrasi.
  • Membangun aset digital jangka panjang: Website dapat dikembangkan sebagai pusat informasi sekaligus kanal penjualan resmi bisnis.

Meski demikian, memiliki toko online sendiri juga membutuhkan strategi untuk mendatangkan pengunjung. Berbeda dengan marketplace yang telah memiliki ekosistem pengguna, pemilik website perlu mengembangkan pemasaran melalui SEO, media sosial, iklan digital, maupun kanal lainnya.

Dengan memahami perbedaan tersebut, pebisnis dapat menentukan kombinasi kanal penjualan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan tahap pertumbuhan bisnisnya.

7 Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Membuka Toko Online Sendiri

Membangun toko online bukan hanya tentang memiliki website dengan katalog produk dan tombol pembelian. Ada beberapa aspek operasional yang perlu diperhatikan agar sistem penjualan dapat berjalan dengan baik.

Berikut tujuh hal yang sebaiknya dipersiapkan.

1. Kesiapan Produk dan Katalog Digital

Hal pertama yang perlu dipastikan adalah kesiapan produk yang akan dijual.

Sebelum membuat toko online, pastikan bisnis sudah memiliki informasi produk yang terorganisasi, mulai dari nama produk, deskripsi, harga, foto, variasi, hingga ketersediaan stok.

Katalog digital yang informatif membantu calon pelanggan memahami produk sebelum melakukan pembelian.

Beberapa hal yang perlu dipersiapkan meliputi:

  • Foto produk dengan kualitas yang baik.
  • Deskripsi produk yang jelas dan informatif.
  • Informasi harga dan variasi produk.
  • Kategori produk yang memudahkan navigasi.
  • Informasi ketersediaan barang.

Semakin terorganisasi katalog produk, semakin mudah pelanggan menemukan barang yang mereka butuhkan.

2. Sistem Manajemen Stok Barang

Pengelolaan stok menjadi salah satu aspek penting ketika bisnis mulai menerima pesanan melalui beberapa kanal penjualan.

Bayangkan jika sebuah produk hanya memiliki lima stok tersisa, tetapi jumlah tersebut masih ditampilkan tersedia di marketplace dan website secara bersamaan. Tanpa sistem pencatatan yang terorganisasi, risiko overselling atau penjualan melebihi stok yang tersedia dapat meningkat.

Karena itu, bisnis membutuhkan sistem manajemen stok yang mampu membantu memantau jumlah barang secara akurat dan memperbarui ketersediaannya secara real-time.

Dengan sistem yang tepat, pebisnis dapat:

  • Memantau jumlah stok yang tersedia.
  • Memperbarui informasi ketersediaan produk.
  • Mengurangi risiko kesalahan pencatatan.
  • Mempermudah perencanaan pengadaan barang.
  • Mengelola persediaan dengan lebih terorganisasi.

Bagi bisnis dengan banyak variasi produk atau volume pesanan yang meningkat, fitur ini dapat membantu mengurangi pekerjaan administratif yang sebelumnya dilakukan secara manual.

3. Integritas Sistem Pembayaran

Proses pembayaran merupakan salah satu tahapan penting dalam pengalaman berbelanja pelanggan.

Ketika membuka toko online sendiri, pebisnis perlu mempertimbangkan metode pembayaran yang akan disediakan.

Beberapa metode pembayaran yang umum digunakan antara lain:

  • Transfer bank.
  • Virtual account.
  • E-wallet.
  • QRIS.
  • Kartu debit atau kredit.

Integrasi payment gateway dapat membantu menyederhanakan proses transaksi melalui berbagai metode pembayaran yang tersedia.

Namun, pemilihan penyedia layanan pembayaran perlu mempertimbangkan biaya transaksi, metode yang didukung, keamanan, serta kemudahan proses pencairan dana.

Semakin mudah proses pembayaran, semakin kecil hambatan yang harus dihadapi pelanggan ketika menyelesaikan pembelian.

4. Sistem Pengiriman dan Integrasi Logistik

Setelah pelanggan melakukan pembayaran, bisnis perlu memastikan produk dapat dikirimkan dengan proses yang efisien.

Jika sebelumnya seluruh proses pengiriman dilakukan secara manual, meningkatnya jumlah pesanan dapat membuat pekerjaan tersebut semakin menyita waktu.

Karena itu, integrasi layanan pengiriman menjadi salah satu fitur yang patut dipertimbangkan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Pilihan ekspedisi yang tersedia.
  • Perhitungan ongkos kirim otomatis.
  • Informasi estimasi pengiriman.
  • Pembuatan atau pengelolaan resi.
  • Pemantauan status pengiriman.

Dengan dukungan sistem yang tepat, proses pemenuhan pesanan dapat dilakukan secara lebih terorganisasi, sehingga bisnis dapat memberikan pengalaman berbelanja yang lebih baik kepada pelanggan.

5. Dashboard untuk Mengelola Pesanan

Semakin banyak transaksi yang masuk, semakin besar pula kebutuhan bisnis untuk memiliki sistem pengelolaan pesanan yang terpusat.

Tanpa dashboard yang terorganisasi, pebisnis mungkin harus memeriksa pesanan melalui beberapa halaman atau melakukan pencatatan secara manual.

Dashboard pengelolaan pesanan membantu bisnis memantau aktivitas transaksi dalam satu sistem.

Beberapa informasi yang idealnya dapat dipantau meliputi:

  • Pesanan yang baru masuk.
  • Status pembayaran.
  • Pesanan yang sedang diproses.
  • Pesanan yang sudah dikirim.
  • Riwayat transaksi.

Selain mempermudah pekerjaan administratif, sistem ini juga membantu bisnis meminimalkan risiko pesanan terlewat atau terlambat diproses.

6. Strategi Pemasaran untuk Mendatangkan Pengunjung

Memiliki toko online sendiri tidak otomatis membuat produk mendapatkan pembeli.

Inilah salah satu hal yang sering terlewat ketika pebisnis mulai beralih dari marketplace ke website e-commerce.

Marketplace memiliki ekosistem pengunjung yang dapat dimanfaatkan oleh penjual. Sementara itu, toko online sendiri membutuhkan strategi pemasaran agar calon pelanggan mengetahui keberadaan website tersebut.

Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain:

Search Engine Optimization (SEO)
Mengoptimalkan website agar produk dan halaman bisnis lebih mudah ditemukan mesin pencari seperti Google.

Social Media Marketing
Memanfaatkan Instagram, TikTok, Facebook, dan platform lainnya untuk memperkenalkan produk sekaligus mengarahkan audiens ke toko online.

Digital Advertising
Menggunakan iklan digital untuk menjangkau calon pelanggan berdasarkan karakteristik dan kebutuhan tertentu.

Customer Retention
Membangun hubungan dengan pelanggan yang sudah pernah melakukan pembelian melalui program loyalitas, promosi, atau komunikasi pemasaran yang relevan.

Dengan strategi pemasaran yang konsisten, toko online dapat berkembang menjadi salah satu sumber penjualan yang berkelanjutan.

7. Anggaran, Pemeliharaan, dan Pengembangan Platform

Hal terakhir yang tidak kalah penting adalah mempertimbangkan biaya untuk memiliki dan mengelola toko online.

Biaya pengembangan e-commerce tidak hanya berkaitan dengan proses pembuatan website. Ada beberapa komponen lain yang perlu diperhitungkan, seperti:

  • Domain dan hosting.
  • Pengembangan dan desain website.
  • Integrasi payment gateway.
  • Integrasi layanan pengiriman.
  • Pemeliharaan sistem.
  • Pembaruan fitur dan keamanan.
  • Pengembangan platform sesuai kebutuhan bisnis.

Bisnis perlu menentukan apakah akan membangun sistem e-commerce dari awal, menggunakan platform siap pakai, atau memilih layanan e-commerce berbasis langganan.

Setiap pilihan memiliki kebutuhan biaya, fleksibilitas, dan tingkat pengelolaan yang berbeda.

Bagi UMKM atau bisnis yang ingin mulai memiliki toko online tanpa investasi pengembangan sistem yang besar, model berlangganan dapat menjadi alternatif yang patut dipertimbangkan.

Berapa Biaya yang Dibutuhkan untuk Memiliki Toko Online?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul sebelum membangun website e-commerce adalah mengenai biaya yang harus dikeluarkan.

Pada dasarnya, biaya memiliki toko online bergantung pada kompleksitas sistem, fitur yang dibutuhkan, serta metode pengembangan yang dipilih.

Ada tiga pendekatan yang umum dipertimbangkan.

1. Membangun E-commerce dari Nol

Pendekatan ini memungkinkan bisnis memiliki sistem yang dirancang berdasarkan kebutuhan spesifik. Namun, prosesnya membutuhkan perencanaan, anggaran pengembangan, waktu, dan pemeliharaan yang lebih besar.

Pilihan ini biasanya lebih sesuai untuk bisnis dengan kebutuhan operasional khusus atau sistem yang kompleks.

2. Menggunakan Platform E-commerce Siap Pakai

Platform siap pakai memungkinkan bisnis membuat toko online menggunakan sistem yang telah tersedia.

Pebisnis dapat memanfaatkan fitur yang disediakan tanpa harus mengembangkan seluruh sistem dari awal. Namun, fleksibilitas dan biaya penggunaan bergantung pada platform serta paket yang dipilih.

3. Menggunakan Layanan E-commerce Berbasis Subscription

Model subscription memungkinkan bisnis menggunakan platform e-commerce dengan membayar biaya langganan sesuai paket yang dipilih.

Pendekatan ini dapat membantu bisnis menghindari investasi pengembangan awal yang besar sekaligus memperoleh akses ke berbagai fitur pendukung penjualan.

Bagi UMKM dan bisnis yang sedang berkembang, model ini dapat menjadi pilihan yang lebih praktis untuk memulai digitalisasi penjualan.

Hal terpenting adalah membandingkan biaya berlangganan dengan fitur, dukungan, dan manfaat operasional yang diperoleh. Jangan hanya mempertimbangkan harga paling murah, tetapi pastikan platform tersebut mampu menjawab kebutuhan bisnis.

Kapan Bisnis Sudah Perlu Memiliki Toko Online Sendiri?

Tidak semua bisnis harus langsung membangun website e-commerce sejak pertama kali berjualan.

Namun, ada beberapa kondisi yang dapat menjadi indikator bahwa bisnis mulai membutuhkan kanal penjualan mandiri.

1. Penjualan Mulai Konsisten

Ketika bisnis sudah memiliki permintaan pasar dan transaksi yang relatif stabil, membangun kanal penjualan tambahan dapat menjadi langkah untuk memperluas jangkauan bisnis.

2. Ingin Memperkuat Identitas Brand

Jika bisnis mulai serius membangun brand, memiliki website sendiri dapat memberikan pengalaman berbelanja yang lebih konsisten dan profesional.

3. Pengelolaan Pesanan Semakin Kompleks

Meningkatnya jumlah pesanan dapat membuat pencatatan manual semakin tidak efisien. Sistem e-commerce dapat membantu mengorganisasi aktivitas penjualan.

4. Membutuhkan Kontrol Lebih Besar terhadap Operasional Penjualan

Bisnis yang ingin memiliki fleksibilitas lebih dalam mengelola katalog, promosi, pelanggan, dan pengalaman belanja dapat mempertimbangkan toko online sendiri.

5. Ingin Mengembangkan Kanal Penjualan Jangka Panjang

Memiliki website e-commerce memungkinkan bisnis membangun aset digital yang dapat dikembangkan seiring pertumbuhan perusahaan.

Jika beberapa kondisi tersebut mulai dirasakan, mungkin ini saat yang tepat untuk mempertimbangkan toko online sendiri.

Memulai Toko Online Tidak Harus Selalu dari Nol

Memiliki toko online sendiri memang memberikan berbagai peluang bagi bisnis. Namun, proses membangun sistem e-commerce dari awal tidak selalu menjadi pilihan paling praktis, terutama bagi UMKM yang memiliki keterbatasan sumber daya dan anggaran.

Kabar baiknya, perkembangan teknologi memungkinkan bisnis menggunakan platform e-commerce siap pakai dengan model berlangganan.

Melalui pendekatan ini, pebisnis tidak harus menangani seluruh proses pengembangan software secara mandiri. Mereka dapat memanfaatkan sistem yang telah tersedia dan memilih fitur berdasarkan kebutuhan operasional bisnis.

Menjawab kebutuhan tersebut, Vodjo menghadirkan layanan e-commerce subscription, sebuah solusi bagi UMKM dan pebisnis yang ingin memiliki toko online sendiri dengan sistem berlangganan.

Melalui layanan ini, bisnis dapat memanfaatkan platform e-commerce dengan fitur pendukung penjualan, seperti:

  • Website toko online untuk menampilkan dan memasarkan produk.
  • Manajemen stok untuk membantu memantau ketersediaan barang secara real-time.
  • Integrasi pembayaran untuk mempermudah transaksi pelanggan.
  • Integrasi pengiriman untuk mendukung proses pemenuhan pesanan.
  • Dashboard pengelolaan pesanan untuk membantu memantau aktivitas transaksi.

Ketersediaan fitur disesuaikan dengan paket berlangganan yang dipilih, sehingga bisnis dapat mempertimbangkan solusi berdasarkan kebutuhan dan skala operasionalnya.

Dengan dukungan platform yang tepat, pebisnis dapat lebih fokus mengembangkan produk, melayani pelanggan, dan menjalankan strategi pemasaran tanpa harus memulai pengembangan sistem e-commerce dari nol.

Saatnya Mengembangkan Kanal Penjualan yang Dimiliki Sendiri

Digitalisasi bisnis bukan hanya tentang mengikuti perkembangan teknologi atau sekadar memiliki website.

Lebih dari itu, digitalisasi merupakan langkah untuk membangun sistem operasional yang mampu mendukung pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.

Marketplace tetap dapat menjadi kanal penjualan yang efektif. Namun, memiliki toko online sendiri memberikan kesempatan bagi bisnis untuk membangun identitas brand, mengelola pengalaman pelanggan, serta mengembangkan kanal penjualan secara lebih mandiri.

Sebelum memulainya, pastikan bisnis sudah memahami kebutuhan operasional, menyiapkan produk, mempertimbangkan sistem pembayaran dan pengiriman, serta memilih platform yang sesuai dengan anggaran dan rencana pertumbuhan.

Ingin memiliki toko online sendiri tanpa harus membangun sistem e-commerce dari awal?

Konsultasikan dengan tim Vodjo. Gratis tanpa dipungut biaya apapun. Hubungi kami.



Vodjo